| Bendungan Jebol Sejak 1998 |
| Minggu, 09/03/2008 |
PANGKALAN BALAI (SINDO) - Ironis.Bendungan Sungai Gelung di Desa Tirta Kencana dan Desa Pendowo Harjo, Kec Makarti Jaya, Banyuasin, yang jebol sejak 1998, belum pernah diperbaiki.
Akibatnya, sebanyak 150 hektar sawah dan puluhan rumah warga terendam banjir hingga membuat aktivitas bercocok tanam petani setempat lumpuh total. Ahmadi, 41, warga Desa Tirta Kencana mengatakan, jebolnya bendungan penahan air tersebut lantaran pendangkalan yang terjadi pada saluran primer dan sekunder.
Anehnya, kendati petani telah beberapa kali mengajukan perbaikan bendungan tersebut,kepada Pemkab Banyuasin melalui Kades dan Camat,namun sampai saat ini belum ada realisasinya sama sekali.
Menurut Ahmadi, sepanjang tahun, sejak 1998, sebanyak 150 hektar sawah milik petani dan puluhan rumah warga terendam banjir setinggi 1 meter ketika air sungai sedang pasang atau setinggi pinggang orang dewasa. Sedangkan ketika air sungai surut, ketinggian banjir mencapai 0,5 meter atau sebatas lutut orang dewasa.
Akibatnya, sebagian petani setempat terpaksa menyewa lahan milik warga di desa tetangga yaitu Desa Sungai Semut, untuk bisa bercocok tanam dengan sistem bagi hasil. Sedangkan sebagian lainnya terpaksa merantau untuk mencari pekerjaan lain guna menyambung hidup.
“Selain itu ada juga yang menanam kelapa di tempat sawah yang terendam banjir tersebut, namun untuk menunggu kelapa berbuah sangat lama sekitar 5 tahun lebih,” ujarnya gundah. Hal senada dikatakan Ahmad, 34, petani lainnya. Dia mengatakan, masalah para petani di Makarti Jaya ini sangat komplek.
Selain saluran irigasi banyak yang rusak, masalah benih padi dan permodalan juga menjadi kendala petani. Saat ini banyak petani di Makarti Jaya yang terjerat sistem ijon, karena petani tidak mempunyai modal sendiri untuk menggarap sawahnya. Bunga yang dikenakan untuk meminjam modal tersebut juga sangat besar.
Dari modal sekitar Rp1 juta yang dipinjam, petani harus mengembalikan uang tersebut sebesar Rp1,5 juta dalam jangka waktu 4 bulan. Belumlagimasalahproduksi padi yang turun akibat banjir, hama dan benih padi yang jelek serta masalah petani ketika panen yaitu anjloknya harga gabah dan beras.
“Kami minta agar Pemkab Banyuasin dapat segera memperbaiki bendungan yang jebol tersebut sehingga petani dapat menanami lagi sawah milik mereka. Karena kalau tidak nasib petani akan semakin menderita,” pintanya.
Bupati Banyuasin Amiruddin Inoed, ditanya soal bendungan yang jebol, mengatakan perbaikan bendungan tersebut telah dimasukkan dalam program perbaikan saluran. Karena meluapnya air bukan karena bendungan yang kurang tinggi, akan tetapi karena adanya pendangkalan. Sehingga aliran air tidak lancar dan meluap ke daerah sekitarnya. Perbaikan tersebut sudah diajukan untuk dianggarkan pada tahun anggaran 2008 melalui program tahun jamak.
“Karena memang perbaikan tersebut sangat mendesak baik primer, sekunder maupun tersier.Apalagi pendangkalan tersebut telah menyebabkan berkurangnya produktifitas hasil pangan dan juga telah mengganggu arus transportasi sungai,”ujarnya. (yopie cipta raharja)