Tak banyak yang tahu kalau nun jauh di pelosok perairan Kab Banyuasin,Sumsel, ada satu tradisi tari adat Bali yang kini tetap terjaga dan terpelihara.
TARIAN itu Tabuka Kesakralan. Demikian tarian tersebut dinamakan. Sampai sekarang jenis tarian tersebut masih sering ditampilkan masyarakat transmigrasi asal Bali yang sudah lama menetap di Desa Pendowo Harjo, Kec Makarti Jaya, Kab Banyuasin. Tarian penghormatan terhadap tamu itu sengaja ditampilkan saat menyambut tamu-tamu penting dan pejabat pemerintahan.
”Kita senang budaya Bali bisa diterima di Banyuasin dan budaya ini akan tetap ada sampai kapan pun. Karena dengan budaya, manusia ada rasa. Dengan rasa, akan timbul cinta dan kasih sayang sesama manusia. Manusia bermacam-macam, ada Bugis, Bali, Sumatera, dan Jawa. Ada pula agama Islam, Buddha, Hindu, Kristen. Semuanya hanya bisa disatukan dengan seni budaya,” kata Made Teguh, 40, tokoh masyarakat Bali di Banyuasin.
Pria yang kini memimpin Sanggar Seni Bunga Tujung Tabuka Bleganjur, sanggar yang biasa memainkan tari Tabuka Kesakralan tersebut.
Mengaku sengaja menampilkan tarian tersebut dengan tujuan untuk memperkenalkan tradisi Bali dan sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang datang supaya merasa senang selama berada di tengah komunitas masyarakat Bali yang berada di Banyuasin. Pimpinan Sanggar Seni Bunga Tujung Tabuka Bleganjur Made Teguh mengatakan, budaya Bali hadir di Banyuasin khususnya di Desa Pendowo Harjo, Kec Makarti Jaya sejak satu tahun lalu.
Para pemainnya berasal dari para transmigran asal Pulau Dewata. Menurut Made, tarian yang terkenal untuk menyambut para tamu kehormatan adalah Tabuka Kesakralan. Tarian ini khusus menyambut para tamu yang hadir di desa atau lingkungan masyarakat. Dengan tarian tersebut, para tamu diharapkan merasa senang berada di tempat tersebut.
”Tarian ini asli dari Bali. Para budayawan kita dulu berharap agar para masyarakat, khususnya yang datang dari luar negeri atau turis, merasa nyaman berada di Bali. Begitu juga dengan tamu yang datang ke desa kami ini. Seperti kunjungan bupati dan rombongannya. Setiap ada pertujukan pun kami menyajikan tarian ini.Seperti kalau di Palembang, ini kan tarian penyambutan tamu adalah tari Tanggai atau Gending Sriwijaya,” ungkap Made.
Hal senada turut disampaikan Nyoman Darna, 49, salah seorang penari. Menurut dia, tarian tersebut telah beberapa kali tampil pada acara-acara resmi. Seperti di Jalur 8 Air Saleh pada saat penyambutan kunjungan kerja (kunker) gubernur Sumsel.Tarian tersebut pernah tampil pula di Kota Palembang pada acara Ikatan Keluarga Besar Kampung Bali, beberapa waktu lalu.
”Walau tinggal di desa, kami juga tetap ikut pada persatuan keluarga Bali. Karena dengan bergabung pada ikatan tersebut,budaya Bali yang kami miliki selama ini tetap terjaga. Dari pertemuan-pertemuan tersebut, kami akan mengetahui apakah ada tarian baru dan pertunjukan yang dapat kami ikuti,” ungkap Nyoman.
”Mengenai pakaian untuk tampil, kebetulan semua anggota adalah orang Bali sehingga kami tidak merasa kesulitan untuk mencari pakaian tarian. Selama ini juga kami mendapatkan bantuan dari Depag pusat, berupa alat-alat tarian. Bahkan, beberapa waktu lalu bupati Banyuasin juga memberikan bantuan uang pembinaan sebesar Rp10 juta,” katanya.
Dia berharap Pemkab Banyuasin dapat membantu untuk melestarikan kesenian Bali tersebut. Karena letaknya yang jauh dari perkotaan maka tidak semua orang tahu kalau di daerah perairan Banyuasin memiliki budaya Bali.
”Kami sangat ingin mengadopsi tarian dari Sumsel, khususnya dari Banyuasin, untuk digabungkan dengan tarian Bali. Karena dengan demikian, suatu tarian akan semakin indah dan penuh makna. Mudah- mudahan saja hal ini akan segera terwujud,” ucap Nyoman Made. (sindo)

0 komentar:
Posting Komentar