Sastra sebagai Sarana Menggugah Budi Pekerti
Agus R. Sarjono
Pelajaran Budi Pekerti sempat berkali-kali diusulkan untuk diajarkan kembali di sekolah. Sempat terjadi kontroversi perlu tidaknya dikembalikannya budi pekerti ke sekolah. Namun, pada umumnya suara setuju terhadap dikembalikannya budi pekerti ke sekolah-sekolahlah yang menjadi suara dominan. Satu-satunya kendala bagi kembalinya budi pekerti ke sekolah adalah teknis komposisi mata pelajaran sekolah yang sudah terlalu padat jenis dan jam pelajarannya. Kendala lain adalah bentuk pelajaran seperti apa yang cocok bagi materi budi pekerti dewasa ini
Tentu saja maraknya usul mengembalikan budi pekerti ke sekolah dipicu oleh keprihatinan yang meluas di masyarakat terhadap kondisi "moral etik" anak-anak sekolah, khususnya di kota-kota besar, lebih khusus lagi di Jakarta. Di kota besar perkelahian pelajar (tawuran) yang nyaris terjadi setiap hari, kerentanan pelajar untuk terlibat narkoba, naluri kekerasan yang semakin lama semakin menggila, kejujuran dan sopan santun yang semakin menipis, dan sebagainya benar-benar memprihatinkan.
Dalam permasalahan itu, saya berada pada posisi minoritas sebagai orang yang tidak setuju dikembalikannya mata pelajaran budi pekerti di sekolah. Kembalinya budi pekerti di sekolah akan berakibat fatal bagi kepribadian anak sekolah. Mata pelajaran Budi Pekerti akan menjadi sebuah ruang tempat nilai-nilai ideal dan muluk-muluk diperkenalkan dan diajarkan. Nilai-nilai luhur ideal yang formal itu akan diajarkan, dibukupaketkan, dan bahkan diujikan. Untuk mendapat nilai baik, anak sekolah akan menjawab soal ujian dengan mengisi jawaban yang seluhur-luhurnya dan seideal-idealnya sehingga budi pekerti merupakan sebuah "pusat nilai-nilai luhur" acuan para siswa. Karena siswa bukan benda mati dan disket yang mudah meng-copy, nilai-nilai luhur itu akan mereka coba kaitkan dengan kehidupan nyata yang mereka lihat di sekelilingnya. Begitu upaya dan tindakan mengaitkan semua pelajaran budi pekerti itu dengan kenyataan dilakukan, dalam sekejap pelajaran Budi Pekerti akan berubah dari center of values menjadi center of irony atau center of parody.
Nilai-nilai luhur budi pekerti yang mereka terima di sekolah akan bertentangan dengan kenyataan riil yang ada di masyarakat. Bagaimanapun, nilai-nilai luhur akan dicari kaitannya dengan sosok dan lembaga yang diandaikan sebagai pengejawantahan keluhuran itu: lembaga pemerintahan, lembaga perwakilan rakyat, lembaga pengadilan, lembaga keagamaan, organisasi masyarakat yang besar dan berpengaruh, serta pribadi para pemimpin, selain sosok guru yang menjadi sumber nilai acuan sehari-hari mereka.
Lembaga pemerintahan berkali-kali menunjukkan diri sebagai lembaga korupsi yang besar dan solid. Lembaga perwakilan rakyat sejauh ini sibuk dengan kepentingan mereka sendiri, mudah dibeli, banyak menuntut, enggan berbagi, serta belakangan ini sudah pula pandai berkelahi secara fisik di depan tatapan ratusan juta mata rakyat yang mereka wakili. Lembaga peradilan jauh dari sifat adil, tidak mempunyai integritas, mudah disogok, dan gemar korupsi. Lembaga keagamaan dan organisasi kemasyarakatan ternyata juga mudah terbakar, bertindak kasar, serta mau menang sendiri. Sementara itu, para pemimpin di tingkat pusat ataupun daerah gemar terhadap skandal.
Jika di tengah penyebaran nilai-nilai luhur itu tiba-tiba siswa mengonfrontasikannya dengan kenyataan yang tegas-tegas sebaliknya, apa yang dapat dilakukan para guru? Bukankah semua pelajaran itu akan menjadi lelucon dan pusat segala macam ironi dan parodi? Dalam jiwa siswa akan bertambah lagi sebuah nilai baru -selain yang diajarkan lingkungan kepadanya- yakni kemunafikan.
Mengapa membaca novel? Demikan pertanyaan yang diajukan Allan Wendt untuk mengawali pengantarnya terhadap novel Thomas Hardy, The Mayor of Casterbridge. Novel, khususnya, dan sastra, umumnya, memberi kita pengetahuan dengan cara yang mengejutkan, juga membuat kita menjadi pribadi yang berbeda. Sejarah biasanya membawa kita untuk menyaksikan peristiwa dari luar, dari suatu jarak, sebagai pengamat. Dengan novel kita dapat mengambil bagian dalam berbagai peristiwa yang mendebarkan tanpa dikenai risiko gawat dari peristiwa bersangkutan.
Membaca sastra berarti bertemu dengan banyak orang. Bermacam-macam orang dengan bermacam-macam masalah, bahkan orang-orang yang tidak ingin kita temui dalam kehidupan nyata serta masalah yang tidak diinginkan, menimpa kita dalam kenyataan. Kita ingat sajak "Jante Arkidam", karya Ajip Rosidi, misalnya. Sajak itu berkisah mengenai seorang penjahat bernama Jante Arkidam, tentu lengkap dengan semua tindak kejahatan Sang Jante. Pembaca membayangkan dirinya sebagai Jante Arkidam. Pembaca berempati dan bersimpati kepadanya, menyanyikan kemenangan dan juga ketegangannya, yang mengharapkan Jante lolos dari kejaran para pemburunya. Namun, dalam kenyataan, orang akan bertindak sebaliknya, yaitu mengharapkan orang-orang seperti Jante Arkidam tertangkap dengan segera.
Tatkala kita membaca Burung-Burung Manyar-nya Y.B. Mangunwijaya, kita bertemu dengan sosok Teto, anak KNIL yang kemudian ikut memilih menjadi serdadu KNIL. Sudahlah pasti bahwa setiap orang Indonesia dalam kenyataan akan segera antipati kepada siapa saja yang menjadi serdadu KNIL dan membunuhi orang Indonesia karena serdadu KNIL adalah serdadu KNIL. Di hadapan nasionalisme Indonesia dia adalah pengkhianat. Namun, dalam karya sastra masalahnya tidak sesederhana itu. Burung-Burung Manyar membawa kita pada kompleksitas kehidupan dan permasalahan yang melingkupi Setadewa alias Teto sehingga dia menyurukkan diri pada pilihan menjadi serdadu KNIL dan berperang di pihak Belanda. Anehnya, kita justru ikut berada di pihak Teto -sesuatu yang nyaris mustahil dalam kehidupan nyata- dan bersama itu kita belajar memahami alasannya, situasi khasnya, keterpukulan batinnya yang melihat mamienya diinternir Jepang, dan turut berdebar-debar menghikmati cintanya yang bersegi-segi kepada Atiek, perempuan cantik aktivis pergerakan kemerdekaan. Pertemuan tidak terduga antara Atiek dan Teto yang berseragam KNIL ikut meretakkan hati kita.
Hal yang sama kita alami pula tatkala membaca cerpen "Musim Gugur kembali di Connecticut" atau "Bawuk" karya Umar Kayam. Protagonis kedua cerpen tersebut adalah orang PKI. Bahkan, di masa kuat-kuatnya rezim Soeharto yang sangat antikomunis pun, pembaca menempatkan hati dan simpatinya kepada orang PKI yang menjadi tokoh utama cerpen itu. Mengapa demikian? Karena PKI dalam kategori sosial yang dirumuskan dan dicapkan oleh rezim Soeharto digugat dan dipertanyakan oleh orang PKI dalam "kenyataan" manusiawi yang disajikan kedua cerpen Kayam tersebut. Simpati kita kepada "orang PKI" dalam cerpen Kayam tersebut pada kenyataannya tidak membuat pembaca sertamerta menjadi pro-PKI. Melalui pembacaan cerpen itu, pembaca menjadi lebih kaya pengalamannya dan belajar memahami manusia dalam jalinan nasib dan situasinya dan belajar pula bersimpati terhadapnya.
Melalui sastra pula pembaca diajak berhadapan dan mengalami secara langsung kategori moral dan sosial dengan segala parodi dan ironinya. Ruang yang tersedia dalam karya sastra itu membuka peluang bagi pembaca untuk tumbuh menjadi pribadi yang kritis pada satu sisi dan pribadi yang bijaksana karena pengalaman membaca sastra telah membawanya bertemu dengan berbagai macam tema dan latar manusia serta membawanya pula bertemu dengan beragam manusia dengan beragam karakter, ideologi, kecemasan, kegirangan, dan harapannya. Parodi dan ironi merupakan bagian yang inheren dalam karya sastra sehingga kategori moral yang dirumuskan dalam pelajaran Budi Pekerti akan langsung diuji dalam situasinya, dialami melalui empati, dan dihidupi melalui apresiasi.
Di hadapan karya sastra yang baik, segala hal ditampilkan dalam seginya yang problematis sehingga penarikan kesimpulan yang formal absolut menjadi gamang dan sulit dilakukan. Dihadirkannya sosok "kotor" pelacur Maria Zaitun dalam sajak Rendra, "Nyanyian Angsa", menggarisbawahi secara tajam kehadiran masyarakat "suci", seperti dokter dan bahkan pendeta yang dengan selop kulit buaya serta bau anggur di mulutnya mengutuk dan mengusir Maria Zaitun karena sosok hina dina itu hanya pantas di neraka. Rendra -yang waktu itu masih Katolik- menggambarkan bahwa justru Yesus sendiri yang turun dan menerima perempuan yang terlunta itu ke haribaannya.
Kehadiran novel Madame Bovary karya Gustave Flaubert menghebohkan kelas menengah Prancis karena novel itu dengan keras menelanjangi ambivalensi moral kelas borjuis Prancis. Sementara itu, novel Uncle Toms Cabin dengan jitu mengecam perbudakan di AS hingga selepas terbitnya novel itu terjadi diskusi panjang dan perbincangan yang melahirkan perlawanan anti- rasisme di AS. Di sisi lain, novel halus Arthur Koestler, Darkness at Noon, menusuk langsung jantung komunisme dan sosialisme di Eropa hingga menimbulkan perpecahan di kalangan mereka. Kemunafikan moralitas kulit putih Belanda mendapat hantaman keras dengan lahirnya novel Max Havelaar karangan Multatuli yang memperkuat gerakan politik etik di Hindia Belanda.
Bagaimana dengan Indonesia? Drama-drama dan sajak-sajak Rendra menyentak kenyamanan "pembangunan" Orde Baru. Rendra segera dicekal dan dipenjara. Selain itu, sejumlah kalangan muslim terperangah oleh cerpen A.A. Navis, "Robohnya Surau Kami", yang memenangkan kesalehan sosial dan mempertanyakan kesalehan ritual. Melalui karya-karya tersebut, masyarakat mendapat peluang untuk menguji kembali dasar-dasar nilai yang mereka hidupi dalam kemapanan dan formalitasnya. Dengan karya itu, mereka mencoba membenahi diri dengan merenungi segala pertanyaan dan permasalahan yang diajukan para sastrawan melalui karyanya. Indonesia memang tidak banyak melakukan pembenahan dan perenungan semacam itu. Gugatan yang diajukan karya sastra cenderung diabaikan, dan jika dipandang mengganggu pemerintahan saat itu, sastrawannya dipenjarakan. Dengan demikian, tidak terdapat cukup peluang masyarakat untuk mempertanyakan, membenahi, dan mengelola ironi dan parodi dalam kehidupan mereka. Hasilnya sangatlah jelas: Orde Baru menemukan jalan buntu dan pembangunan Indonesia terbanting pada krisis yang hingga kini belum tampak jalan ke luarnya.
Sastra dalam banyak hal memberi peluang kepada pembaca untuk mengalami posisi orang lain, sebuah kegiatan berempati kepada nasib dan situasi manusia lain. Diakui atau tidak bahwa pengalaman dan kesempatan manusia pada dasarnya terbatas. Sastra memperluasnya dengan memberi peluang untuk mengalami nasib dan posisi orang lain hingga kemungkinan yang paling mustahil bagi kehidupan nyata mereka sehari-hari. Melalui sastra, seseorang dapat menjalani posisi sebagai ulama, pencinta, pejuang, koruptor, ronggeng, gelandangan, pezina, pengkhianat, pencuri, perampok, pemerkosa, polisi, konglomerat, tukang sihir, orang dimabuk cinta, orang ditolak mentah-mentah cintanya, penjaga rel kereta, tukang pos, tentara di medan perang, tentara di masa damai, mata-mata, korban pemerkosaan, dan sebagainya. Dari pengalaman menjalani hidup yang berbagai -bagai dengan bermacam-macam situasi, tantangan, dan masalahnya, pembaca sastra akan terbiasa berempati kepada nasib manusia dalam berbagai macam masalahnya. Dengan demikian, gubernur yang akan membangun kamar tidur dengan biaya 40 miliar itu akan berpikir ulang jika ia dapat berempati memposisikan dirinya sebagai rakyat kecil yang tergusur rumahnya dan terlunta-lunta di jalan raya sehingga harus berkelahi antara hidup dan mati untuk uang seribu rupiah saja. Uang 40 miliar akan menjadi benar-benar banyak dan bermakna bagi pemuliaan harkat manusia jika digunakan untuk menyejahterakan rakyatnya yang teraniaya.
Jangan lupa bahwa perlawanan terhadap adat lembaga kaum tua tradisional tidak menjadi hidup dan memasyarakat dengan argumen ilmiah atau angka statistik. Perlawanan itu menjadi hidup di mana-mana karena banyak pembaca -khususnya kaum muda- tidak dapat menerima sosok muda Syamsul Bachri dan Siti Nurbaya yang saling mencinta serta berpeluang hidup bahagia sampai akhir masa diputuskan cintanya secara semena-mena hanya dengan alasan adat lama kawin paksa. Pembaca berurai air mata dan dengan itu memantapkan hatinya untuk menolak adat lembaga lama.
Menumbuhkan sense budi pekerti kurang lebih akan berjalan dengan cara yang sama melalui sastra. Ia tidak mungkin ditumbuhkan dengan angka statistik kenakalan remaja dan akibatnya atau dengan ajaran formal tentang budi yang luhur dan agung sebagaimana tempo hari pernah diajarkan dalam penataran P-4 hingga berbutir-butir. Demikian banyak butirnya, tetapi sedikit hasilnya karena di Jakarta butir-butir itu tumbuh menjadi butir-butir kegarangan yang meledak dalam tawuran pelajar di jalanan dan di MPR meledak sebagai tinju antarpartai dan golongan. Jika mereka terbiasa membaca dan menikmati sastra, mungkin peristiwa dramatis dan sia-sia semacam itu tidak kerap terjadi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar